Marmut Merah Jambu

Thursday, March 05, 2015

Mungkin sudah ketinggalan banget jika gua bahas film ini. Sudah banyak, sih, yang review apalagi ngebahasnya. Tapi, nggak ada salahnya, kan, gua berbagi cerita. Tepatnya bukan cerita, sih, tapi lebih kearah sharing saja.

Kenapa baru share sekarang? Soalnya filmnya baru gua tonton sekarang. Kasihann. Padahal filmnya sudah lama keluar, loh. Untung saja, semenjak temen gua kasih filenya ke gua, akhirnya gua bisa nonton di kos dengan laptop. Terima kasih Tong Gos.

Lagi-lagi Bang Raditya Dika membuat film dengan mengangkat judul nama binatang. Setelah memakai nama Brontosaurus dan Salmon, akhirnya nama Marmut dipilih Dika untuk nama film selanjutnya. Gua penasaran, nama apalagi yang Dika bakal pake. Bisa aja kecoa, anoa, bahkan Mycobacterium Palelujenongningsis pun bisa dipakai.

Film ini mengangkat tema 'persahabatan jadi cinta'. Iya, tema yang agak umum buat tema cinta-cintaan. Di film ini, Radit mengemasnya dengan cara yang beda, Iya, dengan teknik ‘Komedi Pakai Hati’-nya yang dia buat. Alur ceritanya mundur, terlihat jelas bahwa pemeran utamnya menceritakan kisahnya yang dulu. Oh iya, nggak lupa juga benang merahnya akan disisipkan di akhir cerita, nggak seperti serial sebelumnya, Cinta Brontosaurus.

1000 burung untuk pernikahan Ina (cinta pertamanya dulu)

Film ini mengisahkan tiga anak SMA yang membuat klub detektif di sekolahnya. Dika, Bertus, dan Cindy. Awalnya cuma Dika dan Bertus saja yang menekuni hobi detektif di sekolahnya. Tetapi, klub mereka menjadi populer dan diresmikan oleh OSIS setelah banyak kasus diselesaikan. Iya, itu pun karena Cindy bergabung dengan mereka.

Waw.... <3

Hubungan suka menyuka pun terlihat jelas di perjalanan ceritanya. Di sisi yang pertama, Cindy malah jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri, yaitu Dika. Sedangkan disisi lain, Dika justru malah suka kepada Ina gadis impiannya. Iya, friendzone gitu lah istilahnya.

Menurut gua, yang paling seru di filmnya itu adalah kasus pengancaman Kepala Sekolah. Seru juga, bagaimana kasus tersebut nggak bisa dipecahkan. Bahkan Cindyyang paling pintar memecahkan kasusmalah nggak bisa menyelesaikan kasus ini. Tonton deh, banyak hal yang  nggak terduga terjadi di film ini.


Di akhir filmnya Raditya Dika bilang sebuah kalimat yang tentunya benang merah film itu sendiri. Di terakhirnya dia bilang

“Cinta itu ibarat Marmut kecil yang belari diatas roda, sejauh dia melangkah, toh dia nggak akan pergi kemana-mana.”


Wah, ternyata benar juga. Terkadang mata kita terlalu jauh memikirkan sosok yang kita idamkan. Kita nggak sadar, ternyata, cinta yang kita kejar malah ada di sekitar kita, bahkan dekat sekali dengan kita. Kitanya saja yang nggak menyadari, kita terlalu sibuk mengejar apa yang tidak pantas buat kita.Ciaelahh.. *lepas kacamata*

Overview, filmnya bagus. Komedinya kena banget. Thanks, ya, bang Radit. Sebuah pertanyaan besar bagi gua, akankah Radit membuat film lagi atau tidak? Akankah diangkat juga dari bukunya? Entahlah, cuma dia doang yang bisa jawab. Oh iya, akhirnya buku terbaru Koala Kumal sudah selesai gua baca. Keren, loh, mudah-mudahan bisa diangkat juga jadi film. Gua tunggu kabarnya, ya, bang.

Oke, segini saja ya yang bisa gua share. Untuk tambahan dan komennya tentang marmut merah jambu, boleh kok nulis komennya di kotak koment. Thank youu

Baca Juga Tulisan Ini

0 KOMENTAR

Terima kasih sudah membaca tulisan Peter. Peter menunggu komentar, kritik dan saran untuk kemajuan blog ini. Jika tidak, mau sekedar aben dengan menulis nama, bisa kok. Ditunggu, ya.

KATEGORI TULISAN

Ikuti Peter, Yuk!

Komunitas Blogku