Tere Liye - Hujan

Wednesday, June 14, 2017




Akhirnya, aku selesai membaca bukunya Tere Liye yang berjudul Hujan dalam dua hari. Meskipun baru sekarang aku baca—padahal terbitan lama, tetapi aku senang dan nggak menyesal membacanya. Bahkan rekomendasi sekali untuk teman-teman membacanya.

Buku ini adalah salah satu dari koleksi buku adiku. Aku meminjamnya ketika sedang go home di Jakarta. Karena adekku sudah selesai membacanya, maka aku putuskan untuk membawa buku tersebut dan menghabiskannya di Yogyakarta.

Oke, let’s talk about this book…

Buku Hujan adalah novel dari penulis Tere Liye. Buku ini adalah salah satu dari kumpulan buku-buku Tere Liye yang satu nafas dengan judul sejenis lainnya, seperti Bumi, Bulan, Rindu, Pulang, dan Matahari. Semuanya, mempunyai rating di kalangan penikmat buku. Semoga kedepannya aku bisa membaca karya-karya tersebut.

Judul dan sinopsi buku ini singkat. Judulnya ‘Hujan’. Sinopsinya nggak kalah singkat juga. Hanya tertulis “Tentang Hujan, Tentang Cinta, Tentang Melupakan, Tentang Perpisahan, Tentang Hujan”. Kedua keunikan tersebut membuat penasaran bagi siapapun yang memiliki bukunya.

Tema yang diangkat adalah ‘Hujan’. Hujan identik dengan kenangan masa lalu (memori). Tokoh utamanya, Lail, diceritakan sedang berjuang melupakan ingatan yang menyakitkan, terutama kenangan bersama pria yang Lail suka (Soke Bahtera / Esok). Indikasinya, kenangannya yang dilupakan.

Latar belakangnya menggunakan peradaban modern yang serba canggih. Seakan-akan pembacanya diajak untuk menjelajahi waktu.

Konsepnya hampir mirip dengan cerita bahtera Nuh. Kondisi dunia pada saat itu sedang terancam bencana dahsyat yang akan membinasakan manusia. Salah satu penyelamat manusia dari kepunahan adalah sebuah roket yang mampu menampung beberapa orang saja. Esok, adalah seseorang ilmuwan penting yang termasuk dalam pembuatan proyek tersebut.

Klimaksnya, hanya beberapa manusia saja yang bisa masuk ke dalam bahtera. Esok, hanya memiliki dua tiket saja. Apakah ia akan memberikan satu tiket lagi kepada Lail, ibunya, atau Claudia? Semakin penasaran, kan? Semakin larut dalam ceritanya, semakin tegang rasanya.

So, pandangan gua tentang buku ini adalah: Bagus banget, rekomendasi, deh!

Benang merah dari novel ini adalah tentang ‘untuk melupakan, kita harus bisa menerima’. Di buku ini ada kalimat yang gua kutip dari perbincangan Elijah kepada Lail:

Bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barang siapa yang bisa menerima, maka dia bisa melupakan, hidup bahagia. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.” (hal. 308)

Tentang persahabatan tidak usah ditanyakan lagi. Persahabatan antara Lail dan Miryam adalah persahabatan yang terbaik. Sosok Miryam selalu berada di sisi Lail ketika susah dan sedih. Miryam juga tidak luput dalam moment Lail menjadi anggota Organisasi Relawan dan mendapatkan penghargaan karena kisah heroiknya sebagai relawan.

Miryam juga suka memberi masukan kepada Lail. Kata-katanya yang gua suka adalah

Jangan pernah jatuh cinta saat hujan, Lail. Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu. Masuk akal, bukan?” (hal. 200)

Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya,” (hal.. 201)

Kamu tau Lail, ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam satu helai nafas. Mereka senang sekaligus cemas menunggu hari esok. Tak pelak lagi, kamu sedang jatuh cinta jika mengalaminya…” (hal. 205)

Tidak ada kabar adalah kabar, yaitu kabar tidak ada kabar. Tidak kepastian juga adalah kepastian, yaitu kepastian tidak ada kepastian. Hidup ini juga memang menunggu, Lail. Menunggu kita untuk menyadari: kapan kita akan berhenti menunggu” (ha.l 227-228)

Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarlah begitu apa adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik justru membawa kedamaian.” (hal. 225)

Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan rasa sukanya, sesuatu yang yang sulit dilukiskan oleh mesin paling canggih sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi, kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta.” (hal. 256)

Lebih baik mendengar kebenaran meski itu amat menyakitkan daripada mendengar kebohongan meski itu amat menyenangkan.” (hal. 288)

Hanya orang-orang kuatlah yang bisa melepaskan sesuatu, orang-orang yang berhasil menaklukan diri sendiri. Meski terasa sakit, menangis, marah-marah, tapi pada akhirnya bisa tulus melepaskan, maka dia telah berhasil menaklukan diri sendiri” (hal.. 299)

Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat-erat semua hal menyakitkan yang mereka alami.” (Epilog, hal. 317)

Selain kutipan, ada juga kritik terhadap dunia sekarang yang diselipkan di awal cerita. Kritik tersebut ada dalam wawancara di suatu acara televisi. Narasumbernya mengatakan “Umat manusia sejatinya sama seperti virus. Mereka berkembang biak cepat menyedot sumber daya hingga habis, kemudian tidak ada lagi yang tersisa. Hanya obat paling keras yang bisa menghentikan virus ini. Mungkin saja manusia merasa berkuasa di atas muka bumi, tapi mereka sebenarnya dalam posisi yang lemah saat berhadapan dengan alam.

Buku ini tidak fokus terhadap kisah percintaan dua pasang remaja saja. Semisal ada, kisah tersebut tidak dominan. Masih ada bagian lain seperti heroisme, persahabatan, militansi, dan intelektual yang menambah warna setiap alur ceritanya. Jadi, buat penggemar genre ‘galau’ garis keras, buku ini bukan buku yang tepat, ya.

So, jadi tunggu apa lagi, baca yuk bukunya. Semisalnya ada sesuatu yang menarik dari buku ini yang belum aku sampaikan, silahkan teman-teman tambah di kolom komentar. Ditunggu diskusinya, ya....

Baca Juga Tulisan Ini

0 KOMENTAR

Terima kasih sudah membaca tulisan Peter. Peter menunggu komentar, kritik dan saran untuk kemajuan blog ini. Jika tidak, mau sekedar aben dengan menulis nama, bisa kok. Ditunggu, ya.

KATEGORI TULISAN

Ikuti Peter, Yuk!

Komunitas Blogku